Sebuah desa kecil yang tenang berada cukup jauh dari pusat kota. Penduduk di desa tersebut juga tidak terlalu banyak. Penduduk yang ramah dan saling kenal satu sama lain membuat desa ini menjadi sangat tenteram. Di desa tersebut terdapat sebuah sekolah kecil yang sederhana.
Seorang anak bernama Xiaojun, salah satu murid di sekolah ini. Ia dijuluki si pengantar surat karena memang itulah tugasnya. Setiap hari setelah pulang sekolah, ia selalu mengantarkan surat-surat ke rumah penduduk. Bahkan, ia melakukannya dengan semangat. Bisa dibilang sudah menjadi hobinya. Ia kenal baik hampir dengan semua penduduk di desa tersebut. Karena pekerjaannya itu, tiap hari ia sering ditunggu-tunggu oleh para penduduk yang berharap mendapat suratnya.
Xiaojun tinggal sendiri di sebuah rumah kecil. Papa dan mamanya bekerja di pusat kota dan baru akan kembali saat hari raya Imlek. Tembak Ikan Online Indonesia
Diantara para penduduk itu, tinggal seorang nenek. Dia adalah nenek Liu. Ia juga selalu menunggu-nunggu kedatangan XIaojun di depan rumahnya. Ia menunggu surat dari anaknya yang bekerja di pusat kota. Anak dari nenek Liu bekerja sebagai dokter di sebuah rumah sakit di pusat kota. Hampir tiap hari Xiaojun mampir ke rumah nenek Liu memberikan surat serta membacakannya karena nenek Liu ada masalah dengan matanya.
Suatu hari, anak dari nenek Liu mengirimkan surat yang menyatakan bahwa ia akan pergi untuk operasi pengobatan darurat di luar kota. Ia tidak akan mengirimkan surat beberapa lama kepada nenek Liu.
Beberapa hari setelah surat itu dikirim, Xiaojun tidak pernah melihat lagi surat yang dikirim untuk nenek Liu. Lama-lama, Xiaojun jadi makin bingung dan penasaran. Akhirnya dia bertanya kepada Kepala Sekolah yang juga merupakan kepala di desa tersebut. Ia memberitahu kebenaran yang sangat mengejutkan kepada Xiaojun. Kepala sekolah mengabarkan bahwa anak dari nenek Liu terkena musibah kecelakaan saat bertugas sehingga meninggal. Karena kondisi nenek Liu yang sudah tua, mereka sepakat untuk merahasiakan kabar tersebut. Pak Kepala juga minta tolong kepada Xiaojun untuk tidak memberitahu dulu kabar itu kepada nenek Liu. Slot Online Indonesia
Hal itu membuat Xiaojun menjadi sangat sedih. Ia terpaksa harus agak menghindar dari nenek Liu. Kadang ia juga berbohong pada nenek Liu. Padahal dulu, ia selalu berkunjung ke rumah nenek Liu. Nenek Liu juga sangat baik dan perhatian pada Xiaojun. Hari demi hari berlalu dengan kepalsuan yang terus berlanjut. Tiap malam, Xiaojun menjadi gelisah dan kepikiran dengan nenek Liu.
Akhirnya, Xiaojun memikirkan sebuah cara. Ia memutuskan untuk menulis surat sendiri dan mengirimkannya kepada nenek Liu. Ia berbohong bahwa itu adalah surat dari anaknya. Ia melakukan itu setiap hari, menulis surat demi surat untuk nenek Liu. Tanpa disangka, Xiaojun dan nenek Liu menjadi semakin dekat. Bahkan, mereka sudah seperti Ibu dan anak kandung.
Namun suatu hari, seperti biasa Xiaojun membacakan surat yang ia tulis kepada nenek Liu. Tiba-tiba nenek Liu menangis. Ternyata, hari itu adalah hari ulang tahun anaknya. Nenek Liu berkata bahwa ia sangat rindu pada anaknya. Mengetahui hal itu, Xiaojun juga menjadi sedih dan merasa bersalah.
Harinya pun tiba, Xiaojun beserta teman-temannya lulus sekolah tingkat pertama. Mereka akan melanjutkan Pendidikan SMA ke pusat kota. Semua anak terlihat senang, namun tidak dengan Xiaojun. Ia merasa sangat berat harus meninggalkan desa kampung halamannya. Namun, bagaimanapun juga ia harus melanjutkan Pendidikan di kota. Slot Judi Online Indonesia
Setelah itu, Xiaojun dating ke rumah nenek Liu untuk memberitahu bahwa ia harus pergi ke kota dan meninggalkan desa. Nenek Liu hanya menasihati Xiaojun untuk jaga diri baik-baik. Namun Xiaojun tetap merasa sedih harus meninggalkan desa. Ia juga sedih karena tidak bisa mengantarkan surat lagi. Ia juga hendak memberikan surat terakhir yang ia tulis kepada nenek Liu. Saat akan memberikannya, tiba-tiba nenek Liu meminta tolong kepada Xiaojun untuk mengambilkan air di kamarnya. Saat di kamar nenek Liu, Xiaojun melihat sepucuk surat. Ternyata surat itu adalah kabar tentang kecelakaan yang menimpa anaknya. Ternyata nenek Liu sudah mengetahui kabar tentang anaknya. Nenek Liu perlahan berjalan juga ke dalam kamar. Ia tidak bisa menahan air matanya, begitupun dengan Xiaojun. Mereka berpelukan sambil menangis. Xiaojun akhirnya membacakan surat terakhir yang ditulisnya. Nenek Liu mendengarkan sambal tersenyum. Ia juga meminta Xiaojun untuk menulis balasan untuk surat itu.
BACA JUGA: Hari Terakhir Bersekolah
Akhirnya, ini menjadi perpisahan bagi Xiaojun dengan nenek Liu. Nenek Liu mengantar kepergian Xiaojun yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri. Begitupun Xiaojun yang menganggap nenek Liu sebagai ibunya. Nenek Liu hanya bisa memberi pesan nasihat kepada Xiaojun. Dan akhirnya mereka saling mengucapkan selamat tinggal. Merupakan hal yang berat bagi mereka berdua untuk berpisah.
Beberapa bulan kemudian, nenek Liu menerima surat yang ditulis Xiaojun dari kota. Kali ini, benar-benar surat yang ditulis Xiaojun dari hatinya untuk nenek Liu. Bukan sebuah surat palsu sebagai anaknya. Suatu saat Xiaojun akan kembali ke desa untuk menengok nenek Liu. Ia berjanji akan hal itu.

Komentar
Posting Komentar