Dulu, kami belum mengerti apapun. Karena miskin kami menggunakan gayung dan mengundi siapa yang bisa melanjutkan sekolah antara aku atau kakakku. Kami kadang juga tidak mengerti mengapa ayah selalu marah dan menghukum kami.
Yang kami tahu hanyalah rasa sakit. Ingin pergi dari rumah secepat-cepatnya supaya ayah tidak ikut campur lagi. Tembak Ikan
Saat itu, kami masih berada diatas bahu papa yang begitu kuat dan kekar. Seolah-olah lengan ini bisa melewati gelombang kehidupan dan memanggul dunia.
Saat kami ada yang sakit, demam yang begitu tinggi. Ayah membawa kami ke rumah sakit. Ia tidak mempedulikan dirinya sendiri. Ia menempuh hujan yang amat deras demi kami. Cintanya bagaikan gunung yang begitu kokoh dan menggetarkan.
Ia bekerja banting tulang demi anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang terbaik. Ia tidak pernah mengungkapkan perasaannya, hanya diam-diam menanggung kesedihannya sendiri.
Tidak terasa, waktu terus berjalan. Punggungnya mulai membungkuk, rambutnya memutih dan kerutan mulai memenuhi dahinya. Tapi, yang ia katakan adalah asalkan kami berhasil, matipun dia akan tertawa bahagia.
Ia yang selalu mengkhawatirkan kami, saat kami tidak pulang atau tidak memberi kabar padanya. Saat masih muda, seringkali kita berpikir kita punya sayap yang perkasa dan bisa terbang sesuka hati. Tapi pernahkah terpikirkan oleh kita perasaan papa?
Sehari tanpa kabar, sebulan tanpa kabar, setahun tanpa kabar, bagaimana perasaannya? Langkah kakinya melalui tiap sudut yang pernah kau lewati. Baginya, tiap detik kita tidak ada, itulah saat yang paling menyakitkan.slot games
Pulanglah, kembalilah ke tempat kau dibesarkan. Tempat dimana kau pertama kali mempunyai impian. Disana ada kawan masa kecilmu. Disana ada awan putih di langit biru. Dan disana ada orang yang sangat kau kenal. Yang sedang menunggumu untuk pulang. Dulu, dialah yang melindungi kita sebagai gunung yang kuat. Sekarang giliran mu menjadi pelindungnya.
Apakah yang ia perlukan? uang? Yang ia inginkan hanyalah sebuah telepon dan pelukan, itu jauh lebih berharga baginya. Jangan tunggu sampai cinta itu menjadi penyesalan. Kembalilah pada ayahmu dan rumahmu.

Komentar
Posting Komentar